MASIH DALAM ABJAD "A"
Abad Teknik Lahir dari Transmutasi
Sebenarnya,
terdapat banyak karakter dan sifat agama Islam yang mendukung kaum Muslimin memasuki
dan menyertai kehidupan modern, yang menurut kesimpulan Ernest Gellner terletak
terutama pada varian murni Islam yang selalu bersifat egalitarian dan
bersemangat keilmuan (scholarly). Sedangkan varian yang mengenal sistem
hierarkis, seperti terdapat dalam kalangan kaum Sufi, selamanya dipandang
sebagai berada di pinggiran. Karena itu, Gellner lebih jauh berpendapat bahwa
berkenaan dengan sejarah Eropa (Barat), keadaan akan jauh lebih memuaskan seandainya
orang-orang Muslim dulu menang terhadap Charlemegne dan berhasil mengislamkan
seluruh Eropa.
Kesimpulan
Gellner bisa saja merupakan sekadar suatu pemikiran yang timbul akibat
spekulasi sosiologis. Tetapi ada pemikiran yang lebih substantif lagi daripada
pendekatan Ernest Gellner, yaitu kajian kesejarahan Marshall Hodgson.
Menurutnya, Abad Teknik lahir karena terjadinya transmutasi hebat di Eropa
Barat Laut. Transmutasi itu sendiri terjadi akibat adanya investasi inovatif
di Eropa pada abad ke-16, baik di bidang mental (kemanusiaan) maupun material.
Investasi inovatif itu, sekali telah menemukan momentumnya, berjalan melaju
tanpa bisa dikembalikan lagi. Adalah amat penting untuk memperhatikan bahwa
dalam investasi inovatif itu sikap berperhitungan (kalkulasi) dan inisiatif
pribadi senantiasa didahulukan atas pertimbangan otoritas tradisi. Di sini
Hodgson melihat bahwa sesungguhnya sikap inovatif seperti itu, sekalipun dalam
keadaan yang masih agak sporadis, sudah lama terdapat dalam masyarakat agraria
berkota (agrarianate citied society) di Dunia Islam. Ia mengatakan bahwa
“Dunia Islam, karena di zaman-zaman Islam Tengah lebih kosmopolitan daripada
Barat, mewujudkan lebih banyak syarat untuk kalkulasi bebas dan inisiatif
pribadi dalam pranata-pranatanya. Sungguh, banyak pergeseran dari tradisi
sosial ke kalkulasi pribadi yang di Eropa merupakan bagian ‘modernisme’
akibat transmutasi, mengandung suasana membawa Barat lebih mendekati apa yang
sudah sangat mapan dalam tradisi Dunia Islam”.
Hodgson
sangat mengagumi Syariah Islam. Menurutnya, kecenderungan pada masyarakat modern
untuk membiarkan adanya peranan utama bagi kontrak-kontrak perorangan yang
dibuat secara bebas, dan bukannya bagi otoritas gilda dan pertuantanahan,
adalah bersesuaian dengan prinsip-prinsip Syariah. “Dengan mengambil teladan
dari Muhammad sendiri, Syariah telah mengukuhkan keadilan berdasar persamaan
(egalitarianisme) dan telah menimbulkan keharusan adanya mobilitas sosial,
dengan menekankan tang gung jawab pribadi dan keluarga inti…,”
Abad Teknik Mengungguli Abad Agraria
Pada abad
ke-19 M, ketika harus dihadapkan dengan Eropa Barat yang modern, Dunia
Islam, seperti dengan gemas diuraikan oleh al-Afghani, memang sangat ketinggalan.
Walaupun begitu, marilah kita perjelas di sini bahwa apa yang terjadi itu pada
hakikatnya bukanlah penghadapan antara dua tempat: Asia
dan Eropa; atau antara dua orentasi kultural: Timur dan Barat; atau, lebih
tidak benar lagi, antara dua agama: Islam dan Kristen. Yang sesungguhnya berlangsung
adalah penghadapan antara dua zaman: Abad Agraria dan Abad Teknis. Keunggulan
Dunia Islam selama berabad-abad kejayaannya adalah suatu keunggulan relatif,
betapa pun hebatnya, antara sesama masyarakat-masyarakat Abad Agraria. Tetapi
keunggulan Eropa Barat terhadap Dunia Islam terjadi dalam makna dan dimensi
historis yang jauh lebih fundamental, yaitu keunggulan Abad Teknik atas Abad
Agraria. Seperti telah disebutkan, hal itu dapat dibandingkan dengan keunggulan
bangsa Sumeria 5000 tahun yang lalu atas bangsa-bangsa lain: yaitu
keunggulan suatu Masyarakat Agraria Berkota (Agrarianate Citied Society)
dari “Zaman Sejarah” atas Masyarakat Agraria Tanpa Kota dari “Zaman
Pra-Sejarah”. Tetapi sudah tentu hal itu berlangsung dalam dimensi yang jauh
lebih besar dan dengan intensitas yang jauh lebih hebat.
Seperti
dicoba diterangkan oleh Marshall Hodgson, Abad Teknik ini terjadi oleh adanya
“transmutasi” yang amat dipercepat, yang karena berbagai hal tertentu “kebetulan”
dimulai dari Eropa Barat Laut. Terdapat kesan amat kuat, sebagaimana
terefleksikan dalam pandangan-pandangan al-Afghani dan ‘Abduh serta para
pemikir modernis lainnya, dan sebagaimana menjadi pandangan yang dominan di
dunia pada abad yang lalu, bahwa Eropa yang teknis itu adalah rasional, sedangkan
masyarakat-masyarakat lain, termasuk Dunia Islam, adalah tradisional. Tetapi
penelitian lebih lanjut menunjukkan bahwa kesan tersebut hanya ada secara psikologis.
Sebab sekalipun terdapat unsur rasionalisme yang kuat dalam modernisme, tapi
bukti menunjukkan bahwa masyarakat modern yang ada sekarang juga berkembang
dengan mengikuti jalur kultural tradisional tertentu. Sedangkan
masyarakat-masyarakat Pra-teknis, seperti Dunia Islam pada umumnya meskipun
mengandung unsur otoritas kultural yang lebih kokoh, namun dalam berbagai hal
tetentu tidak kurang rasionalnya dibanding dengan Masyarakat Teknik. Keunggulan
menyeluruh Masyarakat Teknik terhadap Masyarakat Agraria adalah antara lain
terwujud karena sistem kerja teorganisasi dan efisien. Sedangkan pada tingkat
perorangan, tidak jarang bahwa individu-individu dari Asia
atau Afrika atau Amerika Latin lebih unggul dan lebih rasional daripada mereka
dari Eropa Barat atau Amerika Utara.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar