MASIH DALAM ABJAD "A"
Adab Guru-Murid
Dalam Ihyâ’
‘Ulûm al-Dîn dan adab mengajar dan belajar (guru-murid), kita sering
mendengar etika hubungan antara guru dengan murid, yang dalam beberapa hal membuat
mati ilmu pengetahuan. Di pesantren sebuah kitâb yang sangat
terkenal, yaitu Ta‘lîm-al-Muta‘allim, mengajarkan bahwa seorang murid
pantang membantah guru, karena sikap semacam itu akan melahirkan kutukan dari
guru, dan ilmu yang diperolehnya tidak akan bermanfaat. Prof. Mukti Ali pernah
mengangkat Ta‘lîm al-Muta‘allim sebagai persoalan pembahasan untuk
memahami hubungan guru-murid, yang di pesantren menimbulkan ekses tidak
produktif. Sebab di kalangan pesantren, perkataan yang paling mengerikan dari
seorang guru adalah, “ilmumu tidak bermanfaat!” yang berarti “kutukan”. Inilah
salah satu ekses dari al-Ghazali. Dikatakan ekses, sebab al-Ghazali sendiri
tidak bermaksud demikian.
Sebagai
murid, bahkan al-Ghazali sendiri sangat kreatif, sehingga sering terkesan
seperti menentang gurunya. Kira-kira ada sekitar 6.000 perbedaan pendapat
dengan gurunya—seperti yang terjadi antara Imam Syafi’i dengan Imam Malik.
Sementara itu, perbedaan akan nampak
semakin banyak antara madzhab Maliki dan Hanafi karena Abu Hanifah lebih mementingkan
penalaran. Menurut Kiai Hasyim Asyari, perbedaan antara kedua mazhab itu
menyangkut 14.000 bidang masalah. Demikian pula jika diperbandingkan dengan
Ibn Hanbal yang merupakan murid Imam Syafi’i, tetapi kemudian mendirikan
mazhab sendiri, yaitu mazhab Hanbali. Banyak sekali perbedaan antara mazhab
Hanbali dengan mazhab Syafi’i. Kendati begitu, menurut Kiai Hasyim, keduanya
tidak pernah saling bermusuhan, saling menyalahkan, dan saling mencerca,
apalagi saling mengutuk.
Ketika Abu Hanifah ditanya mengenai
polemik dan serangan-serangan yang ditujukan kepadanya, dia dengan tenang
mengatakan, “ternyata kita benar tetapi masih ada kemungkinan salah, pendapat
orang lain salah, tetapi ada kemungkinan benar”. Begitulah, dulu orang Islam
menyikapi perbedaan pendapat yang sampai sekarang warisannya masih ada di
kalangan para ulama, yaitu di ujung setiap persoalan selalu diucapkan wallâhu
a‘lam bish-shawâb (hanya Allah yang mengetahui yang benar), dan kita tidak
tahu apa-apa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar