Sabtu, 31 Oktober 2015

Adam : Nasib Anak Turunannya

MASIH DALAM ABJAD "A"


Adam: Nasib Anak Turunannya

Di dalam surat Yâsîn disebut­kan, Bukankah sudah Aku pesankan kepada kamu, wahai anak-anak Adam, janganlah menyembah setan, sebab bagimu dia musuh yang nyata? (Q., 36: 60). Ayat ini menunjukan semacam perjanjian primordi­al antara kita dengan Tuhan, di sam­ping perjanjian primordial penga­kuan Tuhan sebagai Rabb kita. Dari kedua perjanjian primordial terse­but, maka selain membawa fitrah cenderung pada kebaikan (hanîf), manusia sejak lahir juga memiliki bakat alami untuk menolak yang tidak baik.
Kejahatan disebut munkar (di­ingkari), yaitu diingkari oleh hati nurani. Sedang kebaikan disebut ma‘rûf (diakui), yaitu diakui oleh hati nurani. Dalam sebuah Hadis disebutkan bahwa “Yang dinama­kan kebaikan itu adalah budi pekerti yang luhur. Dan dosa ialah sesuatu yang terbetik di dalam hatimu dan kamu tidak suka orang lain tahu”.
Perjanjian primordial yang su­dah mengendap di bawah sadar kita yang paling mendalam ini kemu­dian melahirkan hati nurani. Per­jan­jian kita dengan Tuhan itu tidak hanya berada di bawah permukaan kesadaran pada dunia psikologis semata, tetapi juga tertanam dalam dunia spiritual dan banyak mem­pengaruhi hidup kita. Karena itu, bahagia dan sengsara sangat di­pengaruhi oleh hati nurani ini. Misalnya, wujud adanya perjanjian dengan Tuhan untuk mengakui-Nya sebagai Rabb, antara lain adalah dorongan bagi manusia untuk menyembah. Sebaliknya, de­ngan adanya perjanjian dengan Tuhan untuk tidak menyembah setan, maka manusia mempunyai naluri untuk menolak hal yang tidak baik, di mana dosa dirumus­kan sebagai segala sesuatu yang bertentangan dengan hati nurani. Karena itu, kesengsaraan sebenar­nya dimulai dengan adanya perasa­an ketidakcocokan dengan hati nurani. Maka setelah Adam me­lang­gar larangan Tuhan, Tuhan meng­ingatkan mereka, “Bukankah sudah Kularang kamu dari pohon itu, dan Kukatakan kepadamu bah­wa setan adalah musuhmu yang nyata” (Q., 7: 22). Ayat ini merujuk kepada perjanjian tersebut, bahwa Adam sudah menyadari bahwa setan adalah musuh tetapi masih tetap tergoda. Mendengar peringat­an Tuhan Adam kemudian berdoa, Mereka menjawab, “Tuhan! Kami telah menganiaya diri kami. Jika Engkau tidak mengampuni dan me­rah­mati kami pastilah kami ter­masuk orang yang merugi” (Q., 7: 23). Doa ini kemudian menjadi sebuah doa yang paling banyak dibaca orang yang naik haji, karena memang salah satu tujuan haji di Arafah adalah napak tilas pe­nga­lam­­an spiritual Adam.
Kemudian, (Tuhan) berfirman, “Turunlah kamu! Kamu akan saling bermusuhan. Bumi itulah tempat kediaman dan kesenanganmu sampai waktu tertentu” (Q., 7: 24), yaitu kehidupan duniawi. Allah berfir­man, “Di situ kamu hidup, di situ kamu akan mati, dan dari situ kamu akan dibangkitkan” (Q., 7: 25).

Firman Allah bahwa anak turun Adam akan saling bermusuhan su­dah terbukti pada anaknya sendiri, yaitu antara Qabil dan Habil yang ber­akhir dengan terbunuhnya Ha­bil. Itulah pembunuhan pertama yang terdapat dalam kitab suci akibat iri hati. Karena itu, sebenar­nya iri hati merupakan dosa makh­luk yang ketiga setelah yang per­tama, yakni kesombongan iblis yang rasialis, me­rasa unggul tanpa ala­s­an; dan yang kedua, serakah, khirs, yakni nafsu me­miliki sesuatu yang bukan men­jadi haknya, yang dalam bahasa Al-Quran disebut se­ba­­gai hal yang ter­larang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar