MASIH DALAM ABJAD "A"
Adam: Nasib Anak Turunannya
Di dalam
surat Yâsîn disebutkan, Bukankah sudah Aku pesankan kepada kamu, wahai
anak-anak Adam, janganlah menyembah setan, sebab bagimu dia musuh yang nyata?
(Q., 36: 60). Ayat ini menunjukan semacam perjanjian primordial antara kita
dengan Tuhan, di samping perjanjian primordial pengakuan Tuhan sebagai Rabb
kita. Dari kedua perjanjian primordial tersebut, maka selain membawa fitrah
cenderung pada kebaikan (hanîf), manusia sejak lahir juga
memiliki bakat alami untuk menolak yang tidak baik.
Kejahatan
disebut munkar (diingkari), yaitu diingkari oleh hati nurani. Sedang
kebaikan disebut ma‘rûf (diakui), yaitu diakui oleh hati nurani. Dalam
sebuah Hadis disebutkan bahwa “Yang dinamakan kebaikan itu adalah budi
pekerti yang luhur. Dan dosa ialah sesuatu yang terbetik di dalam hatimu dan
kamu tidak suka orang lain tahu”.
Perjanjian
primordial yang sudah mengendap di bawah sadar kita yang paling mendalam ini
kemudian melahirkan hati nurani. Perjanjian kita dengan Tuhan itu tidak
hanya berada di bawah permukaan kesadaran pada dunia psikologis semata, tetapi
juga tertanam dalam dunia spiritual dan banyak mempengaruhi hidup kita. Karena
itu, bahagia dan sengsara sangat dipengaruhi oleh hati nurani ini. Misalnya,
wujud adanya perjanjian dengan Tuhan untuk mengakui-Nya sebagai Rabb,
antara lain adalah dorongan bagi manusia untuk menyembah. Sebaliknya, dengan
adanya perjanjian dengan Tuhan untuk tidak menyembah setan, maka manusia
mempunyai naluri untuk menolak hal yang tidak baik, di mana dosa dirumuskan
sebagai segala sesuatu yang bertentangan dengan hati nurani. Karena itu,
kesengsaraan sebenarnya dimulai dengan adanya perasaan ketidakcocokan dengan
hati nurani. Maka setelah Adam melanggar larangan Tuhan, Tuhan mengingatkan
mereka, “Bukankah sudah Kularang kamu dari pohon itu, dan Kukatakan kepadamu
bahwa setan adalah musuhmu yang nyata” (Q., 7: 22). Ayat ini merujuk
kepada perjanjian tersebut, bahwa Adam sudah menyadari bahwa setan adalah musuh
tetapi masih tetap tergoda. Mendengar peringatan Tuhan Adam kemudian berdoa, Mereka
menjawab, “Tuhan! Kami telah menganiaya diri kami. Jika Engkau tidak mengampuni
dan merahmati kami pastilah kami termasuk orang yang merugi” (Q., 7:
23). Doa ini kemudian menjadi sebuah doa yang paling banyak dibaca orang yang
naik haji, karena memang salah satu tujuan haji di Arafah adalah napak tilas pengalaman
spiritual Adam.
Kemudian, (Tuhan)
berfirman, “Turunlah kamu! Kamu akan saling bermusuhan. Bumi itulah tempat
kediaman dan kesenanganmu sampai waktu tertentu” (Q., 7: 24), yaitu
kehidupan duniawi. Allah berfirman, “Di situ kamu hidup, di situ kamu akan
mati, dan dari situ kamu akan dibangkitkan” (Q., 7: 25).
Firman Allah
bahwa anak turun Adam akan saling bermusuhan sudah terbukti pada anaknya
sendiri, yaitu antara Qabil dan Habil yang berakhir dengan terbunuhnya Habil.
Itulah pembunuhan pertama yang terdapat dalam kitab suci akibat iri hati.
Karena itu, sebenarnya iri hati merupakan dosa makhluk yang ketiga setelah
yang pertama, yakni kesombongan iblis yang rasialis, merasa unggul tanpa alasan;
dan yang kedua, serakah, khirs, yakni nafsu memiliki sesuatu yang bukan
menjadi haknya, yang dalam bahasa Al-Quran disebut sebagai hal yang terlarang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar