MASIH DALAM ABJAD "A"
Abad Teknik suatu Keharusan Sejarah
Apa pun yang
terjadi, disebabkan oleh dinamika internal Teknikalisme, sekali suatu Abad
Teknik tersembulkan di suatu tempat, tidaklah mungkin lagi bagi tempat lain
untuk juga menyembulkannya. Dikarenakan efek teknikalisasi yang melanda dunia
dengan cepat, tempat-tempat lain tersebut hanya bisa menolak, atau menerima
dan mengasimilasinya. Karena itu masyarakat di tempat-tempat lain, termasuk
umat Islam, dengan cepat kehilangan kemandiriannya dan berubah menjadi bagian
penting atau tidak penting masyarakat dunia yang sedang mengalami transmutasi.
Dari sudut tinjauan ini, maka dapat dikatakan bahwa keseluruhan masyarakat para
pemeluk Islam telah berhenti sebagai umat, jika pengertian umat, seperti yang
ada selama ini, mengisyaratkan kemandirian dan kecukupan diri. Sebab
kemandirian dan kecukupan diri Dunia Islam yang dinikmatinya selama
dominasinya berabad-abad itu kini telah runtuh berhadapan dengan arus dan gelombang
Teknikalisme. Maka yang tersisa sekarang ialah pengelompokan-pengelompokan
para pemeluk agama Islam yang tidak lagi terkoordinasi, lebih dari masa-masa
dekat sebelumnya. Universitas al-Azhar di Mesir memiliki daya tahan yang luar
biasa mengagumkan, dan untuk jangka waktu lama sekali senantiasa memancarkan
kewibawaan orientasionalnya ke seluruh Dunia Islam. Tetapi setelah secara tak
terhindarkan harus berhadapan dengan arus modernisasi, responsi yang
diberikannya kurang kreatif, jika bukannya reaksioner, dan peranannya sebagai
sumber orientasi melemah dengan cepat. Tergesernya prestise al-Azhar oleh Universitas
Kairo yang sekular, atau malah oleh Universitas Amerika di sana , merupakan kleidoskop drama Islam
menghadapi Abad Modern. Dari segi inilah amat disayangkan bahwa usaha reformasi
‘Abduh mengalami kegagalan.
Jadi memasuki
dan ikut serta dalam Abad Modern bukanlah persoalan pilihan, melainkan suatu
keharusan sejarah. Dan dari perspektif sejarah kemanusiaan itu, kemodernan
bukanlah monopoli suatu tempat atau kelompok manusia tertentu. Selalu ada kemungkinan
bagi tempat-tempat dan kelompok-kelompok manusia lain untuk mengejar dan
menyertainya. Kita hanya harus menyebut Jepang sebagai contoh bangsa
bukan-Barat yang tidak saja berhasil menyertai kemodernan itu, bahkan telah meluncur
dengan kecepatan yang mencengangkan, termasuk untuk orang-orang Barat
sendiri.
Lebih-lebih
bagi Dunia Islam, kemodernan itu semestinya tidak terlalu asing dalam tinjauan
kemanusiaan dan intelektualnya. Terdapat banyak pandangan yang menjelaskan
bahwa kemodernan, dalam banyak hal, merupakan pengembangan lebih lanjut
nilai-nilai yang ada dalam tradisi keruhanian Irano-Semitik yang memuncak
dalam Islam. Meskipun pandangan yang menyalahkan para pemeluk Islam atas
keterbelakangan zaman sekarang ini mengandung usaha melindungi agama Islam
(bernada apologetik), namun sebenarnya dalam pernyataan itu terdapat kebenaran
mendasar yang tidak mungkin diabaikan. Di tangan peninjau yang lebih netral
dengan mengikuti disiplin ilmiah tertentu, pernyataan serupa bisa memperoleh
pensubstansiannya dan terbebas dari kesan apologetik apa pun. Contoh tinjauan
netral serupa itu ialah yang dilakukan oleh Ernest Gellner, seorang ahli
sosiologi agama. Dalam kajiannya, Gellner menunjukkan bahwa Tradisi Agung Islam
tetap bisa dimodernkan (modernisable) tanpa perlu banyak memberi
konsesi kepada pihak luar, dan bisa merupakan semata-mata kelanjutan berbagai
dialog dalam Umat sepanjang sejarahnya. Dari antara berbagai agama yang ada,
kata Gellner, Islam adalah satu-satunya yang mampu tanpa banyak gangguan
doktrinal untuk mempertahankan sistem keimanannya dalam Abad Modern ini.
Dalam penilaian Gellner, dalam Islam, dan hanya dalam Islam, pemurnian dan
modernisasi di satu pihak, dan peneguhan kembali identitas lama umat di lain
pihak, dapat dilakukan dalam satu bahasa dan perangkat simbul-simbul
yang sama. Dunia Islam memang gagal menerobos zaman dan mempelopori umat
manusia memasuki Abad Modern. Tetapi, kata Gellner lebih lanjut, karena watak
dasar Islam itu, kaum Muslimin mungkin akan justru menjadi kelompok umat
manusia yang paling besar memperoleh manfaat dari kemodernan Dunia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar