Sabtu, 31 Oktober 2015

Abad Teknik Lahir dari Transmutasi

MASIH DALAM ABJAD "A"

Abad Teknik Lahir dari Transmutasi


Sebenarnya, terdapat banyak karakter dan sifat agama Islam yang men­dukung kaum Muslimin me­masuki dan menyertai kehidupan modern, yang menurut kesimpulan Ernest Gellner terletak terutama pada varian murni Islam yang selalu bersifat egalitarian dan bersemangat keilmuan (scholarly). Sedangkan varian yang mengenal sistem hierar­kis, seperti terdapat dalam kalangan kaum Sufi, selamanya dipandang sebagai ber­ada di pinggiran. Karena itu, Gell­ner lebih jauh berpendapat bahwa berkenaan dengan sejarah Eropa (Barat), keadaan akan jauh lebih memuaskan seandainya orang-orang Muslim dulu menang terha­dap Charlemegne dan berhasil mengislamkan seluruh Eropa.

Kesimpulan Gellner bisa saja merupakan sekadar suatu pemikir­an yang timbul akibat spekulasi sosiologis. Tetapi ada pemikiran yang lebih substantif lagi daripada pendekatan Ernest Gellner, yaitu ka­jian kesejarahan Marshall Hod­gson. Menurutnya, Abad Tek­nik lahir karena terjadinya trans­mutasi hebat di Eropa Barat Laut. Trans­mutasi itu sendiri terjadi akibat adanya investasi inovatif di Eropa pada abad ke-16, baik di bidang mental (kemanusiaan) mau­pun material. Investasi inovatif itu, sekali telah menemukan momen­tum­nya, berjalan melaju tanpa bisa dikembalikan lagi. Adalah amat pen­ting untuk memperhatikan bahwa dalam investasi inovatif itu sikap berperhitungan (kalkulasi) dan inisiatif pribadi senantiasa didahulukan atas pertimbangan otoritas tradisi. Di sini Hodgson melihat bahwa sesungguhnya sikap inovatif seperti itu, sekalipun dalam keadaan yang masih agak sporadis, sudah lama terdapat dalam masya­rakat agraria berkota (agrarianate citied society) di Dunia Islam. Ia mengatakan bahwa “Dunia Islam, ka­rena di zaman-zaman Islam Tengah lebih kosmopolitan dari­pada Barat, mewujudkan lebih banyak syarat untuk kalkulasi bebas dan inisiatif pribadi dalam pranata-pranatanya. Sungguh, banyak per­geseran dari tradisi sosial ke kalku­lasi pribadi yang di Eropa merupa­kan bagian ‘modernisme’ akibat transmutasi, mengandung suasana membawa Barat lebih mendekati apa yang sudah sangat mapan dalam tradisi Dunia Islam”.

Hodgson sangat mengagumi Syariah Islam. Menurutnya, ke­cenderungan pada masyarakat mo­dern untuk membiarkan adanya peranan utama bagi kontrak-kon­trak perorangan yang dibuat secara bebas, dan bukannya bagi otoritas gilda dan pertuantanahan, adalah bersesuaian dengan prinsip-prinsip Syariah. “Dengan mengambil tela­dan dari Muhammad sendiri, Sya­riah telah mengukuhkan keadilan berdasar persamaan (egalitarianis­me) dan telah menimbulkan ke­harus­an adanya mobilitas sosial, dengan me­ne­kan­­­kan tang gung jawab pri­badi dan keluar­ga inti…,”
Abad Teknik Mengungguli Abad Agraria

Pada abad ke-19 M, ketika harus di­ha­dap­kan dengan Ero­pa Barat yang modern, Dunia Islam, seperti dengan gemas diurai­kan oleh al-Afghani, memang sangat ketinggal­an. Walaupun begitu, marilah kita perjelas di sini bahwa apa yang terjadi itu pada hakikatnya bukan­lah penghadapan an­tara dua tem­pat: Asia dan Eropa; atau antara dua orentasi kultural: Ti­mur dan Barat; atau, lebih tidak benar lagi, antara dua agama: Islam dan Kristen. Yang sesungguhnya ber­lang­sung adalah penghadapan antara dua zaman: Abad Agraria dan Abad Teknis. Keunggulan Dunia Islam selama berabad-abad kejayaannya adalah suatu ke­unggul­an relatif, betapa pun hebatnya, antara sesama masyarakat-masyara­kat Abad Agraria. Tetapi keunggul­an Eropa Barat terhadap Dunia Islam terjadi dalam makna dan di­mensi historis yang jauh lebih fun­damental, yaitu keunggulan Abad Teknik atas Abad Agraria. Seperti telah disebutkan, hal itu dapat dibandingkan de­­­­­­ngan ke­ung­gul­an bangsa Su­me­ria 5000 ta­hun yang lalu atas bangsa-bang­­­­sa lain: yaitu keunggulan sua­tu Masyarakat Agra­­­ria Berkota (Agrarianate Ci­tied Society) dari “Zaman Sejarah” atas Ma­syarakat Agraria Tanpa Kota dari “Zaman Pra-Sejarah”. Tetapi sudah tentu hal itu berlangsung dalam di­mensi yang jauh lebih besar dan dengan intensitas yang jauh lebih hebat.


Seperti dicoba diterangkan oleh Marshall Hodgson, Abad Teknik ini terjadi oleh adanya “transmutasi” yang amat dipercepat, yang karena berbagai hal tertentu “kebetulan” dimulai dari Eropa Barat Laut. Terdapat kesan amat kuat, sebagai­mana terefleksikan dalam pan­dangan-pandangan al-Afghani dan ‘Abduh serta para pemikir modernis lainnya, dan sebagaimana menjadi pandangan yang dominan di dunia pada abad yang lalu, bahwa Eropa yang teknis itu adalah rasional, se­dang­kan masyarakat-masyarakat lain, termasuk Dunia Islam, adalah tradisional. Tetapi penelitian lebih lanjut menunjukkan bahwa kesan tersebut hanya ada secara psiko­logis. Sebab sekalipun terdapat unsur rasionalisme yang kuat dalam modernisme, tapi bukti menun­jukkan bahwa masyarakat modern yang ada sekarang juga berkembang dengan mengikuti jalur kultural tradisional tertentu. Sedangkan masyarakat-masyarakat Pra-teknis, seperti Dunia Islam pada umumnya meskipun mengandung unsur oto­ri­tas kultural yang lebih kokoh, namun dalam berbagai hal tetentu tidak kurang rasionalnya dibanding dengan Masyarakat Teknik. Ke­unggulan menyeluruh Masyarakat Teknik terhadap Masyarakat Agra­ria adalah antara lain terwujud karena sistem kerja teorganisasi dan efisien. Sedangkan pada tingkat per­orangan, tidak jarang bahwa individu-individu dari Asia atau Afrika atau Amerika Latin lebih unggul dan lebih rasional daripada mereka dari Eropa Barat atau Amerika Utara.

Abad Modern: Umat Islam Menderita Menghadapinya

MASIH DALAM ABJAD "A"


Abad Modern: Umat Islam Menderita Menghadapinya

Sebagaimana diketahui, Abad Modern merupakan perkembangan lebih lanjut masyarakat berkota negeri-negeri Islam. Ironisnya, kaum Muslimin pulalah yang pa­ling parah menderita mengha­dapinya. Ini bisa diterangkan paling tidak oleh adanya tiga hal: pertama, hal yang bersifat psikologis, yaitu, sebagai kelompok manusia paling unggul selama ini, kaum Muslimin tidak mempunyai kesiapan mental samasekali untuk menerima kenya­taan bahwa bangsa lain bukan-Muslim bisa lebih maju dari mere­ka; kedua, sejarah interaksi ber­musuhan yang lama antara dunia Islam dengan dunia Kristen (orang-orang Eropa tetap menyimpan dendam untuk penaklukkan Spanyol di barat dan negeri-negeri Balkan di timur oleh kaum Mus­limin, begitu juga perang Salib yang berkepanjangan dan berakhir de­ngan kekalahan tentara Kristen); dan ketiga, letak geografis dunia Islam yang berdampingan serta bersambungan dengan Eropa, yang memperbesar arti hal kedua tadi.

Penderitaan Dunia Islam meng­hadapi Abad Modern memuncak ketika secara tak terelakkan lagi, seperti orang-orang Sumeria dulu, bangsa-bangsa Eropa mendapati diri mereka mampu dengan gam­pang sekali mengalahkan bangsa-bangsa lain, khususnya umat Islam yang selama ini dikagumi dan ditakuti namun juga dibenci. Bang­sa-bangsa Eropa Barat itu, seperti bangsa Sumeria 5.000 tahun yang lalu, menggunakan keunggulan per­adaban baru mereka untuk melan­carkan politik imperialisme dan kolonialisme, dengan negeri-negeri Muslim secara sangat wajar menjadi sasaran utamanya. Dalam keadaan terkejut dan tak berdaya, kaum Muslimin di seluruh dunia mem­beri reaksi yang beraneka ragam kepada gelombang serbuan kultural dari Barat itu. Pertanyaan yang terberat pada para penganut agama Islam ialah, bagaimana mungkin umat Islam yang merupakan para pemeluk kebenaran Ilahi yang final bisa terkalahkan oleh kelompok lain? Apakah Tuhan telah tidak lagi berpihak kepada hamba-hamba-Nya yang saleh? Jika masih ber­pihak, lalu apa yang sebenarnya terjadi pada umat sehingga berdosa dan dihukum dengan kekalahan dan kehinaan? Apakah ada yang salah pada umat dalam memahami dan mengamalkan agamanya itu? Jika ada, di mana letak kesal­ahan­nya, dan bagaimana memperbaiki­nya (Pertanyaan serupa juga pernah muncul ketika terjadi serbuan bangsa Mongol, tapi tak seprinsipil menghadapi Barat sekarang).

Abad Modern: Pengulangan “Sumerisme”

MASIH DALAM ABJAD "A"


Abad Modern: Pengulangan “Sumerisme”

Apa yang dialami umat manusia 5.000 tahun yang lalu diulang lagi sejak dua abad terakhir ini, tetapi dengan tingkat intensitas dan ukuran yang jauh lebih hebat. Laju perkembangan peradaban umat manusia karena “Sumerisme” ada­lah sedemikian tingginya, sehingga sesuatu yang sebelumnya terse­lesai­kan dalam hitungan waktu ribuan tahun kini dapat rampung dalam ratusan tahun saja. Jauh lebih tinggi adalah laju perkembangan per­adaban manusia setelah timbulnya Abad Modern: apa yang dulu me­mer­lukan ribuan tahun untuk menye­lesaikannya sekarang dapat tuntas hanya dalam jangka waktu puluhan atau malah satuan tahun. Dengan kata lain, Abad Agraria dari Sumeria itu mempercepat perkembangan per­adaban umat manusia secara deret hitung, se­dang­kan Abad Modern ini mele­cutnya secara deret ukur. Karena itu adalah amat logis bahwa krisis umat manusia secara ke­se­luruhan akibat Abad Modern ini jauh lebih hebat berlipat ganda daripada gejolak akibat timbulnya pola kehidupan baru dari Sumeria dalam bentuk peradaban kota ber­dasarkan ke­agrarian 5000 tahun yang lalu.
Peninjau yang Westernistik mengira bahwa Abad Modern dan Teknikalismenya itu merupakan sesuatu yang secara istimewa hanya bisa lahir di Barat, yakni Eropa, dan dengan nada simplistik kemudian mereka menariknya ke belakang sampai ke peradaban Yunani dan Rumawi kuna (“Graeco Roman Civilizations”). Lebih tidak benar lagi ialah pandangan bahwa Mo­dernis­me itu merupakan “genius” peradaban Yahudi-Kristen (“Judeo Christian Civilizations”). Seperti halnya Abad Agraria yang dimulai oleh bangsa Sumeria yang tidak mungkin ada tanpa lebih dahulu terdapat kebudayaan pertanian (tanpa kota) pada kelompok-ke­lom­­pok manusia di Mesopotamia dan sekitarnya, tinjauan dengan meng­gunakan wawasan sejarah kema­nusian sejagad, seperti dila­kukan oleh Hodgson, membukti­kan bahwa Abad Modern ini, seka­li­pun sangat radikal, masih merupa­kan kelanjutan wajar perkem­bangan peradaban dunia seluruh­nya. Karena itu Modernisme, jika toh tidak timbul di suatu tempat tertentu seperti di Eropa Barat Laut, tentu akan timbul di tempat lain. Seandainya tidak timbul di Eropa Barat Laut seperti telah te­r­ja­di, Abad Mo­dern itu diperki­ra­kan sangat mung­kin muncul setidak­nya di dua tempat lain, yaitu Cina (di bawah dinasti Sun yang me­n­emukan kompas dan mesiu serta melancarkan program indus­trialisasi pertanian) dan negeri-negeri Islam, yang memiliki kesiap­an intelektual paling tinggi. Lebih-lebih ber­kenaan dengan Dâr al-Islâm, abad Modern dapat dengan man­tap dipandang sebagai ke­lanjutan lang­sungnya, terutama dilihat dari segi pola kehidupan sosial-ekonominya sebagai ma­sya­rakat berkota (citied society).

Tetapi, karena watak dasar dan dinamikanya, Abad Modern ini, sekali dimulai di suatu tempat, tak mungkin lagi bagi tempat lain untuk juga memulainya dari titik tolak kosong. Dan mengapa Abad Modern tidak timbul dari ling­kungan negeri-negeri Muslim (atau Cina) melainkan di Eropa Barat Laut, memang merupakan suatu pertanyaan besar. Hodgson men­duga bahwa masyarakat Islam gagal mempelopori kemodernan karena tiga hal: konsentrasi yang kelewat besar penanaman modal harta dan manusia pada bidang-bidang ter­ten­tu, sehingga pengalihannya ke­­pada bidang lain merupakan sua­tu kesulitan lu­ar biasa; ke­ru­sa­kan hebat, baik material mau­­­pun men­tal-psikologis, akibat serbuan bia­dab bangsa Mongol; justru kece­merlangan peradaban Islam sebagai suatu bentuk pe­muncakan Abad Agraria membuat kaum Muslimin tidak pernah secara mendesak merasa perlu kepada suatu pening­kat­an lebih tinggi. Dengan kata lain, dunia Islam berhenti berkem­bang karena ke­jenuhan dan ke­mantapan kepada dirinya sendiri. Ketika disadari secara amat terlam­bat bahwa bangsa lain, yakni Eropa, benar-benar lebih unggul dari mereka, bangsa-bangsa Muslim itu terperanjat luar biasa dalam sikap tak percaya. Tidak ada gambaran yang lebih dramatis tentang psiko­logi umat Islam itu seperti keter­kejutan mereka ketika Napoleon datang ke Mesir dan menaklukkan bangsa Muslim itu dengan amat mudah.

Abad Modern dan Sumerisme

MASIH DALAM ABJAD "A"


Abad Modern dan Sumerisme


Hakikat Abad Modern, sebagai­mana sejauh ini penjelasan terbaik­nya diberikan oleh Marshall G.S. Hodgson, ialah Teknikalisme de­ngan tuntutan efisiensi kerja yang tinggi, yang diterapkan kepada semua bidang kehidupan. Maka, menurut Hodgson, Abad Modern itu sesungguhnya lebih tepat dise­but Abad Teknik, apalagi jika harus dihindari konotasi moral yagn kontroversial pada perkataan “mo­dern” (“modern” berarti “baik”, “maju”, dan lain-lain). Teknikalisme itu an sich melatarbelakangi timbul­nya Revolusi Industri, sedangkan implikasi kemanusiaannya me­nyem­bul dalam bentuk Revolusi Perancis. Dua peristiwa yang secara amat menentukan menandai dimu­lai­nya Abad Modern itu terjadi pada sekitar pertengahan abad ke-18, bukannya di bagian Eropa yang mempunyai masa lampau yang panjang dan ge­milang seperti Yu­­nani dan Ru­mawi, melain­kan di Inggris dan Pe­rancis di Eropa Barat Laut yang merupakan pen­datang baru da­lam pentas seja­rah umat ma­nu­sia. Dan kelak akan ternyata bahwa asepek kemanusiaannya yang ter­cerminkan dalam cita-cita Revolusi Perancis itu adalah lebih bermakna daripada segi Tekniknya. Maka sering pula disebutkan ten­tang peranan utama generasi 1789 (Re­vo­lusi Prancis) dalam mele­takkan dasar-dasar Abad Modern.
Sebagai suatu zaman baru, Abad Teknik, dalam efeknya terhadap sejarah umat manusia, dapat diban­ding­kan dengan Abad Agraria Berkota (Agrarianate Citied Society) yang dimulai oleh orang-orang Sumeria pada sekitar tiga ribu tahun sebelum Masehi. Dalam sejarah umat manusia, bangsa Sumeria adalah manusia pertama yang membangun masyarakat ber­kota. Mereka juga yang pertama mampu mengatasi persoalan mere­ka karena gejala alam yang besar, yaitu luapan sungai-sungai Dajlah dan Furat, yang kemudian mereka manfaatkan untuk irigasi pertanian lembah “Antara Dua Sungai” (Me­so­po­tamia). De­ngan di­pim­pin oleh para pende­ta mereka dari zigurat-zigurat, orang-orang Sume­ria terus-me­nerus mem­buat kemajuan dalam ber­bagai bidang. Mere­kalah yang per­tama menggunakan bajak dan weluku secara intensif untuk meng­garap tanah, dan de­ngan begitu sangat meningkatkan produksi per­tanian. Peningkatan produksi pa­ngan (dan sandang) tidak saja mem­per­baiki taraf hidup para petani, tapi juga memung­kinkan tumbuhnya kelas baru di kota-kota yang dapat menikmati hidup mak­mur tanpa harus terjun langsung dalam pekerjaan pe­rta­nian. Mereka adalah juga manusia per­tama yang mem­buat tulisan (huruf), menemu­kan perunggu dan meng­gunakan kendaraan beroda.
Berkat kemajuannya itu, bangsa Sumeria mendapati dirinya mampu dengan gampang mengalahkan dan menguasai bangsa-bangsa lain di sekitarnya, yaitu masyarakat-ma­sya­ra­kat pertanian tanpa kota. Dengan begitu perang tidak lagi hanya berupa pertempuran antar suku seperti sebelumnya, melainkan meningkat skalanya menjadi perang antar bangsa. Maka timbullah pada mereka, untuk pertama kalinya dalam sejarah umat manusia, kehi­dup­an bernegara dalam arti kata yang sebenarnya, bahkan dengan wawasan imperialisme dan kolo­nialis­menya. Hal ini, selanjutnya menuntut kemampuan yang lebih tinggi untuk mengatur kehidupan bersama secara lebih cermat dan profesional. Jika selama ini pimpin­an masyarakat terbatas hanya kepa­da para pemimpin agama sebagai satu-satunya kelas literati, kini diperlukan kelompok orang-orang yang khusus menangani urusan kenegaraan, terutama perang, serta kelompok lain yang menangani perdagangan.
Cara dan pandangan hidup Sumeria (“Sumerisme”) menjadi model bagi umat manusia selama 5000 tahun, yaitu sejak tumbuhnya masyarakat berkota (citied society) per­tama di Sumeria itu sampai dengan dimulainya Abad Teknik di Eropa Barat Laut. “Sumerisme” merupakan dasar pola kebudayaan manusia sejagad, meskipun di sana-sini, seperti misalnya di pedalaman Afrika, Pulau Irian dan Australia, masih terdapat kelompok orang-orang yang belum mengenalnya samasekali, bahkan sampai se­karang. Sungguh, sejak masa Sume­ria itulah umat manusia benar-benar memiliki “Peradaban” dan memasuki “Zaman Sejarah”.
Yang segera terlanda oleh gelom­bang “Sumerisasi” itu ialah kalang­an bangsa-bangsa Semit sendiri di sekitar Mesopotamia, kemudian bangsa Mesir di Lembah Nil dari kalangan ras Hamit, menyusul bangsa-bangsa Persia, Yunani, dan India dari kalangan ras Arya. Bang­sa-bangsa lain yang lebih jauh dari Lembah Mesopotamia, melalui perkembangan dan pengaruh be­ran­tai, juga akhirnya terkena oleh arus “Sumerisasi” itu, seperti ditun­juk­kan oleh “bangsa” Jawa setelah kedatangan orang-orang “ber­per­adaban” dari India.
Abad Agraria itu terus-menerus mengalami perkembangan secara progresif, dengan perbaikan tidak saja dalam hal-hal yang ber­sangkut­an dengan pertanian, tetapi lebih penting lagi peningkatan konsep ke­manusiaan yang mendasarinya, atau menjadi implikasinya. Peranan kaum intelektual yang diwakili oleh golongan literati dari pranata keaga­ma­an tetap berlanjut sebagai sum­ber kreativitas dan inovasi. Dalam perkembangan lebih lanjut, penge­ta­huan tulis-baca menjadi tidak terbatas hanya kepada kalangan agama saja, tetapi meluas ke kalang­an-kalangan lain juga. Puncak dari “Sumerisme” itu, dalam artiannya sebagai peradaban duniawi dalam bentuk masyarakat berkota (citied society) dengan dasar ekonomi agraris dan dengan pengembangan serta peningkatan optimal aspek kemanusiaannya, ialah Dâr al-Islâm yang berhasil mendominasi umat manusia selama paling sedikitnya delapan abad.

Abad Modern: Aspek Teknik dan Aspek Kemanusiaan

MASIH DALAM ABJAD "A"


Abad Modern: Aspek Teknik dan Aspek Kemanusiaan

Suatu hal yang tampaknya tak mungkin dihindari tentang Tek­nika­­lisme ialah implikasinya yang mate­­rialis­tik. Maka dalam meng­hadapi dan menyertai kemodernan, kaum Muslimin dituntut untuk memper­hitungkan segi mate­rialis­me ini. Kalkulasi pribadi, inisiatif per­orang­an, efisiensi kerja adalah pekerti-pekerti yang baik dan ber­manfaat besar. Tetapi, bagai­mana­pun, menun­duk­kan nilai-nilai keakhlakan dan kema­nusiaan ke bawah pe­mak­simal­an efisien teknis, betapapun besar hasilnya, kata Hodgson, kemung­kinan sekali akan terbukti merupakan mimpi buruk yang tak rasional.
Telah diketahui bahwa aspek ke­manusiaan Abad Modern ini bisa, dan telah menjadi kenyataan, lebih penting dan lebih menentukan dari­pada aspek teknikalismenya. Generasi 1789 yang secara garis besar meru­pakan angkatan dua re­vo­lusi, yaitu Revolusi Amerika dan Revolusi Prancis, dari sudut pan­dangan kemanusiaan modern Barat adalah peletak dasar-dasar segi kemanusiaan bagi kemodernan. Cita-cita ke­­manusiaan yang diru­mus­kan dalam slogan Revolusi Prancis, “Kebebasan, Persamaan, dan Persaudaraan,” me­mang belum seluruhnya terwujudkan dengan baik. Tetapi harus diakui bahwa dunia belum pernah me­nyaksikan usaha yang lebih sungguh-sungguh dan lebih sistematis untuk mewu­judkan nilai-nilai kemanusiaan itu, dalam bentuk pelaksanaan yang terlembagakan, daripada yang dila­kukan orang (Barat) sejak terjadinya dua revolusi tersebut. Pengeja­wan­tahan terpenting cita-cita itu ialah sistem politik demokratis, yang sampai saat ini menurut kenyataan baru mantap di kalangan bangsa-bangsa Eropa Barat Laut dan ke­turun­an mereka di Amerika Utara.
Aspek teknik yang material dan aspek kemanusiaan yang non­material itu berjalan hampir seiring di Eropa Barat Laut, dan penyem­bulannya ke permukaan juga terjadi se­cara hampir bersamaan, yaitu dalam Revolusi Industri dan Re­volusi Prancis. Tetapi bagi bangsa-bangsa lain yang hendak mencoba mengejar ketertinggalannya, jika tidak mungkin mengambil kedua aspek itu sekaligus, sering dihadap­kan kepada pilihan yang tidak begitu mudah untuk menetapkan mana dari kedua aspek itu yang ha­rus didahulukan. Tetapi biasanya ben­tuk kesiapan tertentu suatu bangsa akan men­­-dorongnya untuk secara pragmatis menentukan pilih­an tanpa kesulitan. Maka India misal­nya, disebabkan oleh jumlah cukup besar dari ka­langan atasnya yang berpendidikan Barat di bawah pe­me­rintahan ko­lonial Inggris, se­cara amat menarik menunjukkan keber­hasilan­nya untuk sampai batas ter­tentu menerapkan aspek kema­nusiaan modern Barat, yaitu, dalam hal ini, demokrasi sistem peme­rintahannya. Keberhasilan itu terja­di dengan seolah-olah meng­ingkari kenyataan sosial ma­syarakat Hindu­nya yang mengenal sistem kasta yang kaku, yang sama sekali tidak selaras dengan keseluruhan cita-cita kema­nusiaan modern. Meskipun India berhasil mewujudkan dirinya seba­gai “demokrasi terbesar di muka bumi”, perkembangan lebih lanjut menunjukkan bahwa ke­melarat­an rakyatnya senantiasa menjadi sum­ber ancaman kelang­sungan demo­krasi itu.

Sebaliknya, saat-saat terakhir ini kita bisa menyaksikan peningkatan se­cara luar biasa kemakmuran material beberapa negara Timur Tengah pemilik petrodollar. Jika dibe­narkan menggunakan kriteria India itu kepada gejala Timur Tengah ini, maka dapat dikatakan bahwa, kebalikan dari India, nega­ra-negara petrodollar itu memiliki kesiapan tertentu untuk mengambil dari Barat dan mengadopsi, secara lahirnya, aspek teknik dan kemo­dern­an. Tetapi jika tidak segera atau bersama dilakukan penggarapan yang serius terhadap aspek pe­ngembangan kemanusiaannya, ada kemungkinan bahwa “kemajuan” material itu akan justru merupakan epok sejarah setempat yang ternyata nanti menimbulkan penyesalan yang mendalam. Nampaknya tan­tang­an ini disadari sepenuhnya oleh para pemimpin negara-negara itu.